That Day (Ayu Ainiyatun Najibah - XI.IBB)

That Day

Suara kicauan burung yang merdu dengan semilir angin berhembus dengan sejuknya pada pagi hari ini. Hujan deras sepanjang malam membuat harum khas tanah menguar begitu saja memberikan kesan alami yang menyenangkan untuk dihirup. Bermacam-macam bebungaan di taman yang indah ini terlihat lebih segar tidak seperti biasanya yang tidak terawat. Suasana pagi hari ini terlihat sangat hangat, tergambar dari interaksi yang menyenangkan antara para pedagang kaki lima yang ramah dengan para pembelinya, para orang tua dengan anak-anaknya yang sedang tertawa ria saat lesehan di bawah pohon, pasangan muda yang sedang asik berbincang-bincang di bangku taman, para remaja yang sedang berolahraga lari-lari kecil diiringi dengan obrolan singkat, wajah anak-anak yang senang bermain bersama-sama, dan juga seorang pemuda bersama hewan peliharaan kesayangannya. Semua itu terasa sangat ceria di pagi hari ini tetapi tidak dengan seorang perempuan muda disana. Perempuan muda berusia 17 tahun dengan kulit putih pucat beserta rambut hitamnya yang terurai membuatnya terlihat sangat cantik. Ia sedang duduk di bangku taman sambil memegangi tongkatnya ketika ia menatap kosong pada bangku yang ada di sebrangnya. Sangat terlihat ia terlalu larut dalam pikirannya sendiri, mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam yang membuatnya mengetahui hal yang penting dalam hidupnya.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………

5 tahun yang lalu…

Di sebuah rumah yang terlihat sederhana dengan sekitarnya yang terdapat pohon-pohon besar yang membuat lingkungan tampak terasa sejuk, tinggallah seorang anak perempuan muda bernama Starla dengan kedua orang tuanya beserta kakak perempuannya yang bernama Sanla. Hari ini adalah hari libur, tepatnya hari Minggu. Seorang anak perempuan bernama Starla dengan sangat antusias mengajak ayah dan ibunya pergi ke taman, tempat yang sangat ia sukai. Setiap akhir pekan ia selalu mengajak kedua orang tuanya ke taman tersebut. Segala bujukan dan rayuan akan dia lakukan agar kedua orang tuanya mau menemaninya untuk pergi ke taman tersebut. Ntah kenapa ia selalu menyukai taman itu, sejak kecil ia memang sering mengunjungi taman yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
 
"Ayah! Ibu! Ini sudah akhir pekan. Ayo kita pergi ke taman!" Ajak anak perempuan itu.
Ayahnya bertanya kepada anak perempuannya "Kamu tidak bosan setiap pagi akhir pekan kamu pergi ke taman itu? Kak Sanla saja lebih memilih tidur di rumah daripada sekedar berolahraga di sekitar taman itu."
"Iya, pagi ini kamu di rumah saja membantu ibu bersih-bersih. Mungkin minggu depan kita baru kesana." Ucap ibunya.
"Aku tidak pernah bosan kesana, toh seminggu hanya sekali ke taman itu. Disana aku bisa bertemu dengan teman-temanku yang berbeda komplek dariku, bisa juga jajan makanan yang super duper enak itu. Ayolah ayah, ibu, temani aku kesana. Kalau aku ajak kakak pasti dia lebih memilih tidur di rumah. Kalau aku sendirian dan terjadi apa-apa bagaimana? Misal saja aku diculik dan dibunuh dengan kejam. Apa ayah dan ibu bisa menerimanya? Sehabis pulang dari taman, nanti aku membantu ibu bersih-bersih rumah deh." Ujar sang anak perempuan itu.
"Kamu itu bicara apa sih, jangan bicara yang aneh-aneh! Ibu tidak mau ya kamu bicara itu lagi! Yasudah habiskan sarapanmu, kalau sudah selesai kita ke taman." Jelas sang ibu.
"Kamu ini umur sudah belasan tahun seperti berumur 5 tahun saja." Ujar ayahnya.
"Yeeeyyy asik! Aku memang sudah belasan tahun yah, tapi jiwa-jiwaku masih seperti berumur 5 tahun hahaha. Ayah ikut juga kan?" Tanya anak itu.
"Kalau ayah tidak malas ya." Jawab sang ayah yang sedang membaca koran paginya.
"Ayah... Ayolah sebentar saja, tidak akan lama. Ya ayah ya..." Bujuk anak perempuan itu dengan memohon.
"Yasudah iya iya... tapi jangan lama-lama ya. Ada hal yang harus ayah kerjakan nanti." Jelas sang ayah.
"Siap ayah. Terima kasih! Selesai sarapan aku mau bersiap-siap dulu ya." Kata anak itu.

Setelah mereka sudah rapi, akhirnya merekapun pergi ke taman tersebut. Disana sangat ramai. Taman itu memang selalu ramai, ntah orang-orang hanya sekedar duduk saja atau mampir untuk membeli makanan ringan karena di taman itu banyak pedagang kaki lima yang berjualan aneka ragam makanan dan sebagainya. Sesudah mereka sampai disana, anak perempuan itu beserta kedua orang tuanya mencari bangku untuk mereka duduki.

"Yah, bu.. duduk dimana ya? Kok kayaknya penuh semua ya bangkunya." Tanya anak itu yang sedang melihat-lihat sekitar.
"Iya ya, taman ini selalu ramai deh. Jadi susah mencari bangku yang kosong." Keluh ibunya.

Tak lama kemudian beranjaklah anak-anak muda dari salah satu bangku yang ada disana, membuat bangku itu tidak ada yang menempatinya.

"Nah itu disana ada bangku yang kosong, kita duduk disana saja." Ujar sang ayah.

Si anak perempuan itupun segera berjalan dengan terburu-buru untuk menduduki bangku taman tersebut, takut-takut kalau ada yang mendahuluinya, lalu disusul dengan kedua orang tuanya yang berjalan ke arah bangku itu.

"Pagi ini sejuk banget ya yah,bu... walaupun di rumah kita banyak pepohonan, tapi disini lebih sejuk ya." Kata anak perempuan itu sambil melihat sekeliling.
"Iya. Udara pagi memang selalu menyejukkan. Selain itu, udara pagi hari juga baik untuk kesehatan." Jelas sang ibu.
"Maka dari itu bu aku sangat suka kesini." Kata anak perempuan itu menatap ibunya.
"Menurut ayah tidak ada bedanya disini dengan di rumah kita, sama-sama sejuk kok." Ucap ayahnya.
 Anak itu langsung menatap ayahnya. "Ih tapi kan yah, kalau disini aku bisa bertemu teman yang lain, bisa beli makanan ringan juga. Kalau di rumah kan tidak."
"Iya iya terserah kamu saja deh." Ucap ayahnya.
"Gara-gara ngomong makanan aku jadi lapar. Hmmm makan apa ya enaknya? Ah kalau begitu aku mau beli bakpao saja deh. Ayah dan ibu mau tidak?" Tawar anak itu.
"Tidak usah. Mau ayah belikan saja? Biar kamu duduk disini bersama ibu." Tanya ayahnya.
"Tidak usah ayah. Aku masih bisa berjalan walaupun dibantu dengan tongkat ini." Kata anak itu sambil menunjuk tongkatnya.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya!" Kata ayahnya.
"Oke, aku kesana dulu ya." Pamit anaknya.

 Ketika anak perempuan itu pergi, tanpa sadar sang anak telah menjadi bahan pembicaraan kedua orang tuanya.

"Tidak terasa ya sejak kejadian itu Starla sudah besar saja." Ucap sang ayah memperhatikan Starla yang sudah pergi menjauh.
"Iya, dia sudah tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik." Ujar sang ibu.
"Sanla dan Starla adalah anugerah yang terbaik yang Tuhan berikan untuk kita." Ucap sang ayah.
"Iya benar. Mereka akan selalu menjadi matahari dan bintang kita. Matahari dan bintang yang akan selalu menerangi kehidupan kita." Jelas sang ibu.
"Tapi ibu sangat takut. Bagaimana jika ia tahu yang sebenarnya?" Tanya sang ibu dengan nada khawatir.
"Bagaimana perasaannya nanti saat mengetahui bahwa kita bukanlah orang tua kandungnya?" Tanya sang ibu lagi.

Sang ayah hanya terdiam saja.

 Akhirnya mereka sama-sama terdiam. Mereka terlalu larut dalam pikiran mereka masing-masing sehingga tanpa mereka sadari, Starla sudah ada di belakang mereka, mendengar pertanyaan ibu yang tak terjawab. Niatnya ia ingin mengejutkan kedua orang tuanya tetapi sekarang malah ia yang terkejut dengan apa yang ia dengar. Dengan mata yang berkaca-kaca, Starla memberanikan diri menanyakan tentang dirinya.
 
"Jadi, sebenernya siapa kedua orang tua kandungku?"

Mereka sangat terkejut akan keberadaan Starla yang sudah ada di belakang mereka. Merekapun juga terkejut akan pertanyaan yang Starla lontarkan. Akhirnya mereka mengajak pulang Starla dan ia menurut. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam saja. Sesampainya di rumah mereka menjelaskan semuanya kepada Starla. Dari sejak ia di temukannya di depan pintu rumah mereka sampai saat ini. Awalnya Starla benci akan cerita takdir tentang dirinya. Ia berpikir bahwa ia memang tidak diharapkan di dunia ini, orang tua kandungnya tidak menginginkannnya mungkin karena ia memiliki kekurangan. Ya, sejak lahir ia hanya memiliki satu kaki. Tetapi dengan segala penjelasan ayah dan ibunya yang sekarang yang sudah membesarkannya hingga saat ini, ia tak bisa membenci hidupnya lagi. Tak ada alasan baginya untuk membenci kehidupannya lagi. Ia bersyukur bahwa Tuhan memberikan orang-orang yang sayang padanya walaupun ia tidak sempurna. Ada kedua orang tuanya beserta kakak perempuannya yang benar-benar tulus menyayanginya.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………

"Hai kamu melamun saja. Sedang memikirkan apa? Daritadi ibu berbicara dan kamu tidak mendengarkannya?" Tanya sang ibu yang menatap heran anaknya.
"Maaf ibu, aku tidak bermaksud begitu." Kata anaknya.
"Yasudah tidak apa-apa. Jangan berpikir yang tidak-tidak ya! Karena kamu tahu kami sangat menyayangimu, apapun keadaannya." Jelas sang ibu.

Ia tersenyum kepada ibunya, ibunya benar, mereka memang menyayanginya dengan tulus. Tanpa ibunya berkata seperti itu, ia memang sudah tahu sejak lama. Sejak hari itu, ia banyak belajar tentang kehidupan. Bahwa Tuhan akan selalu memberikan jalan yang terbaik untuknya dan juga untuk orang lain. Setiap orang memiliki kebahagiaannya masing-masing. Sejak hari itu, ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah dikaruniai keluarga yang terbaik untuknya. Walaupun ia bukan anak kandungnya, kedua orang tuanya tidak pernah membeda-bedakan dirinya dengan anak kandungnya sendiri yaitu kakaknya. Kakaknyapun juga sama, ia tidak pernah memusuhi dirinya, kakaknya selalu membimbingnya dengan baik. Ia sangat menyayangi keluarganya.

"Kelihatannya sebentar lagi hujan akan turun lagi. Mari kita pulang, pasti ayah dan kak Sanla sudah menunggu kita." Ujar ibunya.
"Mari bu." Ucapnya.

Akhirnya mereka pulang dengan sang ibu berjalan berdampingan dengan Starla yang dibantu dengan tongkatnya.


 SELESAI

Komentar