Sapri Si Anak Nakal
Sore hari ini tak seperti biasa, lebih panas dibanding hari – hari sebelumnya. Ayam – ayam kelaparan yang biasanya terlihat berlomba mematuk tanah pun hari ini memilih untuk berteduh dan diam di kandangnya. " Tuk " sebuah batu mengenai tubuh ayam, mengusik istirahatnya. " Hai siapa yang meganggu istirahatku " kata si induk ayam, tapi tidak ada jawaban yang terdengar. Tiba – tiba datanglah seorang anak yang hendak melempar ayam untuk ke 2 kalinya. Mengetahui akan di ganggu, ayam – ayam berlari berhamburan kesana kemari. " Huuh dia lagi " kata si induk ayam. Tidak bosan – bosannya dia mengganggu binatang di sekitarnya. Anak yang dimaksud induk ayam adalah sapri, anak yang tinggal di seberang jalan umurnya baru 8 tahun. Tapi dia sangat jahil, tangan dan kakinya selalu di gunakan untuk berbuat jahat.
Sapri tinggal bersama bapak dan ibunya. Dia adalah anak tunggal sehingga dia di manja. Apa yang ia minta selalu dituruti sebaliknya kalau tidak dituruti akan marah dia melempar benda – benda yang didekat dengannya. Di sekolah tidak jauh berbeda dengan dirumah, selalu megganggu temannya yang sedang belajar. Gurunya pun tidak sanggup membimbing untuk menjadi anak yang baik, yang bisa menghormati dan menyayangi teman – teman dan gurunya.
Pada suatu hari sepulang sekolah, tanpa mengucap salam sapri masuk kerumah. Dia langsung menuju meja makan " bu, saya mau makan, saya lapar " kata sapri dengan suara keras. " Sebentar nak, ibu akan siapkan " kata ibunya dengan sabar. " Cuci tangan dulu nak, sebelum makan agar kuman – kuman tidak ikut ke makan " kata ibu sapri. " Saya sudah lapar, jadi tidak sempat cuci tangan " kata sapri sambil mengambil lauk dengan tangannya. Ibunya tidak bisa berkata – kata lagi selain mengelus dada. Itulah salah satu kelakuan si sapri sehari – hari nya. Setelah makan, dia langsung berlari keluar rumah untuk bermain. Jika ada batu dijalan diambil dilempar kemana saja yang dia suka. Sehingga tidak heran jika ada ayam yang terkena lemparan batu.
Sampailah dia disebuah rumah yang terdapat pohon mangga, buahnya sedang masak – masaknya. Tidak ragu – ragu sapri langsung memanjat hendak mengambil mangga yang bukan miliknya. Dia hendak mengambil mangga di ujung ranting yang rapuh. Tangannya sempat mengambil mangga tapi kakinya salah menginjak, dia meginjak ranting yang rapuh. Maka jatuhlah ia, dengan suara jeritan yang keras. Orang – orang pun segera menolong dan membawa kerumah sakit terdekat setelah diperiksa. Ternyata tangan dan kakinya patah karena jatuh dari atas pohon.
Karena kejadian itu sapri tidak bisa bermain dan sekolah untuk sementara. Karena itulah dia mulai meyadari kesalahannya dan menyesali tingkah laku yang tidak terpuji. Sekarang sapri mulai menyadari bahwa dia sangat disayang oleh orang – orang disekitarnya.
Komentar
Posting Komentar