Dreams
Hallo namaku adalah Adelia. Aku orang yang selalu mempunyai mimpi tinggi, hal apa saja selalu aku jadikan mimpi. Hal yang aku anggap terindah dari mimpiku adalah " jodoh ". Mengapa ? karena sudah lama aku bermimpi mendapatkan seseorang yang setia dan bisa menjaga ku dengan baik dan karena sampai sekarang pun aku belum pernah merasakan yang namanya " pacaran "
Sampai suatu hari aku bermimpi, aku di takdirkan bersama seseorang. Yang di lahirkan dengan muka yang lucu dan tampan, Namun menyebalkan.
Pada saat itu aku bertemu dengan dia di sebuah café. Café yang tak jauh letaknya dari rumahku. Awalnya aku tak melihat bahwa ada cowo tampan di dalam café tersebut, karena aku bukan lah tipe orang yang selalu memperhatikan keadaan sekitar dan sekalinya aku sudah fokus dengan hp maka tak ada lagi sosok manusia yang aku anggap ada di dekatku. Namun ada cowo yang membuat aku mengalihkan padanganku kepadanya, karena cowo tersebut tak berhenti bolak – balik menatapku. Yang pada akhirnya aku pun risih dan memperhatikan cowo tersebut. Pada saat aku menjatuhkan pandangan kepadanya ia pun menatapku balik dan tersenyum kepadaku memberikan senyum yang indah dengan muka yang tampan dan lucu tersebut. Ah! tak hentinya hati ku berdebuk kencang dan merasa malu di tatap balik olehnya.
Aku pun memutuskan untuk pergi dari café tersebut karena sudah 2 jam aku duduk di dalam café. Saat aku ingin membuka pintu café. Dan…. Yah! Tiba – tiba terlihat tangan seseorang yang menahan pintu café itu. Ternyata tangan tersebut adalah tangan cowo itu, ia menahan pintu tersebut sehingga aku tak bisa membukanya. Lalu, dia berbicara ke pada ku.
" Hai! boleh kenalan? "
Aku hanya terdiam dan bingung mengapa dia tiba – tiba menghampiri ku, padahal kita kenal saja tidak.
" Hallo! hai "
Dia berbicara lagi ke padaku. Aku pun yang tadinya terdiam kebingungan akhirnya berbicara kepadanya.
" Hai! "
" Boleh tau nama kamu siapa ? "
" Nama ku Adelia. Nama kamu siapa ? "
" Oh, cantik ya namanya seperti orangnya ehehehe. Nama ku Bagas "
" Hehehe makasih "
" Iya sama – sama "
Tak lama aku berbincang dengannya, aku langsung memutuskan untuk pergi dari café tersebut. dan terdengar suara orang teriak.
" Adel, boleh engga aku minta id line kamu ? "
Namun teriakkan itu aku hiraukan, karena tak penting bagiku. Kenal saja tidak, mengapa harus memberikan id line kepadanya.
Pada di sekolah aku memikirkan kejadian di café. Mengapa tidak aku kasih saja id line ku kepada dia. Memang rasa menyesal selalu datang belakangan, ah sial!. Aku hanya menggerutu karena menyia – nyiakan cowo setampan Bagas. Kapan lagi ditanya id line dengan cowo tampan.
Bel masuk tiba, aku dengar – dengar bahwa ada anak pindahan dari Bandung tapi tidak tau namanya siapa. Bu guru pun masuk dan langsung berbicara.
" Anak – anak hari ini kita ke datangan murid baru dari SMAN 3 Bandung "
" Ayo masuk sini ke dalam " * ajaknya *
" Hallo teman – teman perkenalkan namaku Bagas Putra, aku siswa pindahan dari SMAN 3 Bandung. Semoga kita bisa berteman dengan baik, senang bisa menjadi teman baru kalian "
Awalnya aku menghiraukan anak baru tersebut, tapi pada saat anak tersebut mengenalkan namanya. Spontan kepalaku mengangkat dan menaruh hp ku di atas meja. Ternyata cowo tersebut adalah cowo yang menahan ku kemarin pada saat di café, iya dia adalah Bagas. Aku langsung menutup muka ku dengan buku. Lagi – lagi dia seperti memperhatikan ku kembali dan melemparkan senyum kepadaku.
Dia pun duduk di belakangku.
" Hai, kita bertemu lagi ya "
" Hehehe iya "
" Ternyata dunia ini sempit ya "
" Hahaha bisa aja lu "
" Jangan – jangan kita jodoh "
Aku pun terdiam dan tidak menjawab perkataanya lagi.
Jam istirahat tiba. Dia tiba – tiba mengajakku untuk ke kantin bersama.
" Eh kita ke kantin yuk? "
" Hah? apa? kantin? Duluan aja gua engga laper "
" Yeh, gua kan anak baru. Emang engga ada niatan temenin gua sambil mengelilingi sekolah? "
" Engga "
Dia pun akhirnya pergi ke kantin bersama teman sebangkunya.
Lagi – lagi aku pun juga menggerutu karenanya. Aku berbicara sendiri sambil menaruh buku ku kedalam tas.
" Kenapa sih tuh orang sok kenal banget sama gua. Kayanya suka banget ngegodain gua, kenal aja engga ewh. "
" Kenapa sih? Kok lu kayanya hari ini bawaanya kaya kesel terus " * tanya Zahra *
" Gimana engga kesel, ada aja orang yang engga jelas lagian "
" Siapa sih? Anak baru ? "
" Iyalah siapa lagi "
" Jangan kesel – kesel, Kalau nanti dia jodoh lu gimana? "
" Idih ogah banget gua punya jodoh kaya dia. Udah sama cewe sok kenal sok deket terus juga tebar pesona mulu lagi "
" Ah engga boleh gitu "
" Liat aja, nanti juga kalau lu udah di ganggu sama dia bawaanya kesel terus "
" Ahahaha, iya udah udah. Kita ke kantin yuk, emang lu engga laper ? "
Saat perjalanan ke kantin aku berpas – pasan dengan Bagas dan lagi – lagi dia senyum dan menatapku. Begitu saja terus bila dia bertemu dengan ku. Tersenyum lalu melihat tanpa henti, entah apa yang dia perhatikan dari ku sampai tidak berpaling pandangan. Risih rasanya bila ada yang melihatku begitu terus setiap bertemu dan aku menarik perkataan ku bahwa aku menyesal tidak mengasih id line kepadanya.
Sudah 2 bulan dia pindah di sekolah tempat aku sekolah.
Pada minggu ke 6 aku sudah bisa menjadi teman dan berbicara kepadanya. Yang awalnya aku kesal kepadanya dan kini aku bisa menganggap bahwa dia adalah anak yang seru dan baik kepada orang, tidak seperti pertama perkenalan. Yang membuat orang kesal dengan sikap nya yang sok kenal dan sok dekat terhadap orang.
Sering aku bertukar kabar kepadanya melalui line semenjak aku dan Bagas menjadi teman pada minggu ke 6 tersebut. Bagas juga selalu bermain kerumah ku dan menjemputkan bila ingin berangkat ke sekolah. Karena jarak dari rumah Bagas kerumah ku tidak terlalu jauh dan bisa di bilang sekalian " lewat " makanya Bagas selalu mengajak ku untuk berangkat dan pulang bersama.
" Adel.. Adel…"
" Apa Gas? "
" Lu pernah engga jatuh hati sama seseorang pada pandangan pertama "
" Engga, emangnya kenapa ? "
" Engga apa – apa sih. Gua cuma mau cerita, gua lagi jatuh hati sama seseorang yang gua liat waktu pertama kali ketemu dia. Kita ketemu udah sekitar 2 bulan yang lalu "
" Wah! enak ya yang jadi cewenya. Udah engga tau tapi di setiain "
" Hahahaha "
" Kenapa lu engga coba aja buat menyatakan perasaan lu ke dia? Emang kalian engga dekat ? "
" Dekat sih. Tapi gimana ya Del, gua sama dia sih dekat banget. Tapi gua mau nyatain takut di tolak, soalnya dia jutek abis pas baru ketemu apalagi galaknya minta ampun "
" Yah ampun. Sayang banget, kalau gua jadi cewenya sih pasti mau – mau aja. Siapa sih yang engga mau, udah di setiain yang setiain nya ganteng pula "
" Ahahaha bisa aja Del "
Dan sudah sebulan berlalu setelah Bagas cerita " Cinta pada pandangan pertama " tersebut.
Akhirnya Bagas menyatakan perasaanya kepada cewe tersebut. Kalian tau? Cewe tersebut adalah aku, Bagas tiba – tiba datang ke rumah ku pada jam pulang sekolah. kebetulan pada hari itu Bagas tak bareng dengan ku alasannya bahwa Bagas mempunyai tugas kelompok jadi dia tak bisa bareng denganku.
So sweet sekali tiba – tiba aku mendapat pesan dari Bagas yang berisi.
" Aku di depan kamu keluar deh "
Disitu aku terkejut. Banyak pertanyaan melayang – layang di pikiranku.
" Ah masa iya dia di luar sih "
" Bukannya dia ada kerja kelompok ? "
" Ah paling dia bohong "
5 menit aku memikirkan itu semua sambil diam di ruang tamu dan menghiraukan pesan yang dikirim oleh Bagas tersebut.
Terdengar suara orang memanggil namaku di depan rumahku.
" Adel "
" Iya tunggu "
Aku membuka pintu pagar ternyata benar Bagas berada di depan rumahku bersama teman – temannya sambil membawa bunga dan balon tulisan yang bertulis " will you be mine ? ". Aku pun hopples dan meneteskan air mata. Tak menyangka bila ada seseorang yang meminta ku untuk menjadi pacarnya. Padahal jujur saja tak ada yang bisa di banggakan dari ku. Dan lebih yang tidak menyangkanya lagi adalah bahwa " Cinta pada pandangan pertama " yang Bagas ceritakan pada ku adalah aku, Adelia. Cewe yang jutek terhadapnya. Inilah alasan dari semua sikap berbeda yang Bagas berikan kepada ku dari awal bertemu hingga sampai sekarang ia menyatakan perasaanya.
Dan akhirnya aku pun terbangun dari mimpi indah tersebut. Karena teriakkan mamah yang membangunkan ku.
-END-
Komentar
Posting Komentar