Dia, Hujan dan Payung (Widya Zahra - XI.IBB)

Dia, Hujan dan Payung

 

Masalah selalu menghampiri kita, Ia tidak pilih kasih, semua pasti merasakannya. Beberapa orang sangatlah hebat karena dapat melaluinya tanpa terlihat terbebani. Namun beberapa orang harus kalah berperang dengan masalahanya.


***


Matahari masing enggan untuk kembali bertugas. Namun seorang gadis telah terbangun dari tidurnya. Hal seperti ini bukan hal yang baru ataupun spesial. Kegiatannya dimulai dengan membuka mata dan mencari benda yang selalu dibawanya selama beberapa tahun belakangan ini, sebuah payung lusuh berwarna kuning-kejinggaan. Namun saat ini Ia tidak dapat menemukan payung tersebut. Sesaat perasaan itu kembali muncul, perasaan yang menghantuinya. Gadis berkulit pucat itu mulai ribut mencari bendanya, mengobrak-abrik ruangan dan membuatnya menjadi berantakan. Terlalu bising suara yang dibuatnya hingga seorang pemuda masuk dan bertanya. "Ada apa?" namun tak ada jawaban yang keluar dari mulut tipisnya.

 Gadis itu masih ribut mencari barang berharganya. Rambut hitam pekat itu terlihat kusut seiring kepanikan menguasai. Si pemuda terlihat risih dengan kelakuan sang gadis yang menggila. Tak lama, terdengar suara tangisan. Gadis itu menangis ketakutan dan berusaha pergi dari ruangannya. Ia berlari, berusaha pergi dari kenyataan yang tengah menyapanya.

Sebuah kenangan terlintas begitu saja dalam benaknya, kenangan yang membuatnya seperti ini, kenangan yang membuatnya tak pernah lepas dari payungnya. Saat itu ia sedang kesal, terlalu kesal hingga tak memperdulikan hal lain kecuali keinginannya terpenuhi.


 Hujan lebat tengah mengguyur sebuah kota kecil. Kota ini terkenal dengan temperatur suhunya yang rata-rata lebih rendah dibanding daerah lain, dimanapun. Keadaan seperti sekarang ini membuat suhu menjadi lebih buruk. Seorang gadis berbaju dress putih terlihat berdiam diri di dalam halte bus. Bajunya masih rapih namun, terlihat cipratan-cipratan air hujan. Sebenarnya bus terakhir sudah lewat beberapa waktu yang lalu, Ia tak berdiam untuk sebuah bus. Ia hanya berteduh, menunggu hujan itu berhenti atau keajaiban agar Ia dapat pulang saat ini tanpa harus kehujanan.

Tak jauh dari tempatnya berdiam terlihat seorang wanita muda. Penampilannya terlihat rapih, sepertinya baru saja pulang kerja atau mungkin akan pergi menuju sebuah pertemuan formal. Wanita itu menggengam sebuah payung kuning-kejinggaan. Saat itu sepasang iris Sang gadis bertemu dengan milik wanita tersebut. Wanita itu berhenti sejenak, kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam halte. Ia datang, tersenyum, dan melipat payung serta ikut berdiam bersama remaja boots cokelat.

Hampir 20 menit sejak wanita itu datang dan hujan masing segan untuk berhenti. Langit semakin gelap, awan mendung memperburuk keadaan. Cahaya redup dari lampu jalan disebrang tak cukup membuat halte menjadi terang. Tangan dan kakinya mulai terasa mati rasa, suhu sepertinya sudah mulai menurun cukup drastis. Disampingnya, Sang wanita tengah memejamkan mata, terlihat kelelahan. Sepertinya Ia telah masuk kedalam alam mimpi yang indah. 'Bagaimana bisa Ia tertidur disaat seperti ini' batin Si remaja. Waktu terus berjalan. Pikirannya tak sampai, mengapa wanita itu masuk kedalam halte. Padahal Ia memiliki payung yang dapat membantunya melawan hujan. Apakah dia tak tahu bahwa bus terakhir sudah lewat cukup lama?

Kini matanya tak luput dari benda anti air yang terletak didekatnya. Remaja ini tak ingin berdiam diri lebih lama, Ia ingin pulang dan menghangatkan diri. Dilihatnya wanita itu masih terpejam. Sebuah pemikiran untuk mengambil payung itu terlintas. 'Saat Ia bangun nanti sepertinya hujan sudah berhenti' batinnya. Toh, wanita ini tak terlihat seperti membutuhkan payungnya. Tanpa berpikir dua kali Ia mengambil payung itu dan berjalan pergi meninggalkan halte.

Hari berganti, sebuah berita sedang diputar di televisi nasional. Saat ini berita tengah menayangkan tentang pembahasan sebuah peyakit. Sejujurnya menonton berita bukan rutinitas paginya, tapi berita satu ini rasanya tak boleh terlewat ketika Ia mendengar nama kota yang ditempatinya disebut. Acara ini tengah memperkenalkan sebuah penyakit yang akrab disapa frosbite. Tak ada yang istimewa pada awalnya, hingga berita ini menayangkan sebuah kasus akibat penyakit ini. Korban merupakan seorang wanita muda yang berprofesi sebagai pianis.

'Wanita itu!' Ia terkejut karena wanita yang ditemuinya kemarin masuk dalam berita. Dijelaskan bahwa frosbite pada tahap akhir dapat memengaruhi semua lapisan kulit, termasuk jaringan dibawahnya yang dapat menyebabkan sendi tidak aktif lagi. Di dalam berita dijelaskan bahwa wanita itu tak lagi dapat menjadi pianis karena frosbite yang menyerang tangannya.

Tak ada perasaan berlebihan awalnya, hanya terkejut mengatahui bahwa wanita yang kemarin ditemuinya telah kehilangan mimpi dan harapannya. Saat akan berangkat sekolah Ia menyadari bahwa hujan tak berhenti turun sejak kemarin. 'Payung' batinnya. Seketika perasaan ketakutan dan bersalah mulai muncul. 'Hujan itu tak berhenti hingga sekarang, payung miliknya aku ambil.' menepis segala perasaan kalutnya, ia mulai berjalan menuju sekolah.

Sepanjang hari semua orang membicarakan wanita itu. Kota ini memang kecil. Cukup kecil untuk mengetahui apa saja yang terjadi pada warga didalamnya. Perasaan bersalah itu semakin timbul dan tak membiarkannya tenang. 'Aku meninggalkannya' 'Ia tidak bisa pulang karena aku ambil payungnya' 'Apa aku penyebabnya?' 'Aku menghancurkan hidupnya'. Pikiran itu terus berputar-putar didalam otaknya.

Diperjalanan pulang Ia kembali melewati halte bus kemarin, banyak orang yang berkumpul untuk menunjukan rasa simpatinya, sebagian hanya penasaran. Pemikiran buruk makin menghantuinya. Saat itu hujan kembali turun. Orang-orang mulai berteduh, sebagian mengeluarkan payung. Disaat itulah jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Perasaan tak nyaman menghampirinya. Payung. Benda itu ada dimana-mana. Ia mempercepat langkahnya.

Belum sampai ditujuan remaja itu kini berdiri diam ditengah hujan. Semua payung terlihat sama! Semuanya berwarna kuning-kejinggaan. 'Pasti ada yang salah' pikirnya. Ia mulai menangis, Ia tidak tahu kenapa, tapi air mata itu otomatis membanjiri wajahnya yang telah basah karena air hujan. Pernyataan maaf terus terucap dari mulutnya. 'Aku tak tahu kau akan seperti ini!', 'Maafkan aku telah menghancurkan hidupmu', 'Aku tak pernah bermaksud jahat terhadapmu,' 'Aku hanya lelah dan ingin pulang saat itu', 'Maaf aku mengambil barangmu'. Ia kembali berlari tanpa henti, berusaha menghilangkan bayangan buruknya. Kini Ia ketakutan, Ia mulai menghalusinasikan wanita itu, wanita itu datang untuk payungnya, untuk harapan dan impian yang musnah begitu saja karenanya. Mulai saat itu segala hal berbau payung, selalu membawa efek buruk baginya.


Kini Ia terdiam, langkahnya memberat, Ia sudah lelah berlari. Saat ini Ia terduduk di sebuah bangku panjang di pekarangan. Pemuda tadi ternyata mengikuti tanpa sepengetahuannya. Ditangannya ada benda yang sedari tadi dicari gadis itu. "Kau meninggalkannya di ruang kumpul kemarin malam. Ini, milikmu." Gadis itu segera mengambil payungnya. Iya, benda ini yang membuatnya depresi, membuatnya ketakutan setengah mati.  Ia menjadi sedikit berbeda dari orang kebanyakan. Lucunya, benda yang membuatnya gila itu justru adalah pengingatnya untuk tenang. Entah mengapa ia merasa jauh lebih nyaman saat payung itu bersamanya. Ada perasaan bahwa jika Ia bersama benda itu semuanya akan aman, padahal tak ada yang menjaminnya.

"Ayo kita kembali, ini masih terlalu pagi untuk berjalan-jalan diluar bukan?" pemuda itu mengulurkan tangannya. Namun,  Si gadis masih terguncang, Ia malah memperhatikan pakaian yang dikenakan Si pemuda tersebut. "Aah, ini masih terlalu pagi, aku belum mengganti baju dengan seragamku" biasanya pemuda itu akan menggunakan setelan berwarna biru terang, khas seorang perawat rumah sakit. Tapi kini Ia hanya mengenakan pakaian kasual. Terlihat tak akan merespon, pemuda ini menggenggam tangan Si gadis dan membawanya masuk kedalam.

Sebuah plang besar bertuliskan 'pusat rehabilitasi' terlihat saat Ia dibawa masuk oleh sang pemuda. Gadis itu menghembuskan nafas berat setelah melihat plang besar tadi. Ia tidak menyukai kenyataan. Kenyataan bahwa Ia harus terjebak didalam penjara.  Jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, belum banyak aktiftas yang berjalan dsini. Ia diantarkan ke sebuah ruangan, sebuah kamar miliknya. "Aku pergi dulu ya, nanti jangan tertidur sembarangan lagi, barangmu bisa tertinggal atau terbawa orang lain" ucap sang pemuda. Obat tidurnya baru saja di ganti kemarin, sepertinya efek obat tidur barunya kurang cocok dan membuat Ia melupakan barang berharganya karena katuk yang tak tertahan. Mungkin nanti ia akan konsultasikan hal ini pada perawat atau dokternya.

 

***




Komentar