Di Ruang ini, Terbaring Sebuah Rasa. Enina Patricia XI.IBB

Di ruang ini, terbaring sebuah rasa
Cerita tentang 2 sosok yang tak saling mencinta, namun merasa

Aku adalah sesosok. Bukan manusia, tetapi aku bisa berjalan, dan aku bernafas, dan aku bisa berfikir, dan berbicara, layaknya manusia. Aku adalah sesosok, bukan manusia, namun mirip seperti manusia, hanya saja, aku tak bisa beremosi. Aku memang diciptakan seperti itu, jadi aku tak marah. Aku pun tak bisa marah, jadi aku tidak melakukan apa – apa.

Beberapa waktu lalu, aku dibawa ke suatu ruangan. Ruangan ini berwarna putih, polos. Tak ada apa – apa selain pintu. Konon katanya, ruangan ini jauh lebih buruk dibanding ruang rehabilitasi dimana para pecandu narkoba dipulihkan, juga katanya jauh lebih buruk dibanding penjara yang terletak di pulau yang dikelilingi lautan maupun samudra. Bagi mereka pecandu Narkoba, ruang rehabilitasi mungkin terasa seperti rantai di sekujur tubuh mereka, dan wajah mereka terasa seperti tertimpa oleh bantal. Mereka tak bisa berbuat apa – apa. Mereka engap, tak dapat bernafas, namun tangan mereka tak bisa melawan, kaki mereka tak bisa menendang. Mereka mengalami kondisi dimana hidup masih mungkin untuk diperjuangkan, namun sulit, kondisi dimana mati mungkin jadi jawaban yang hampir paling tepat dibanding jawaban lain, namun mati pun sulit, hidup apalagi. Dan bagi mereka tahanan yang dikurung di sel di tengah samudera, sama halnya seperti seorang yang ditempatkan di hutan yang luas, dan tak dapat cahaya matahari. Dimana ia akan merasa takut sepanjang masanya. Ia tak mati, ia bisa bernafas, bergerak, bahkan berlari. Ia hidup, namun hidupnya tak menentu, mungkin saja sedetik lagi akan ada harimau menerkam, atau ular berbisa menggigit. Keadaan dimana mereka masih hidup, masih bisa bebas, namun tak bisa kabur dari hal bernama kematian. Kondisi dimana mereka mengetahui, ada jalan keluar, ada suatu tempat disana, dimana mereka bisa, pergi, dan menjalani hidup layaknya orang biasa, di pagi hari mereka akan menikmati roti dan selai, di siang hari mereka akan mampir ke pasar, membeli ayam dan bumbu untuk malam hari. Suatu tempat yang indah, yang nyaman, namun amat jauh nan tak mungkin.

Kedua kondisi tersebut memang buruk. Namun apa lagi yang lebih buruk dibanding keadaan dimana kita bahkan tak bisa mengetahui apakah kita masih hidup, atau sudah mati. Semuanya putih, sejauh kau berlari, hanya ada putih. Kata mereka, surga itu baik dan putih. Kata mereka juga, neraka itu jahat dan hitam. Lalu aku ada di mana? Ketika aku membuka mata, aku hanya bisa melihat putih, dan ketika aku menutup mata, aku hanya melihat kegelapan. Aku bisa jadi di surga, aku juga mungkin saja di neraka, yang pasti aku bukan di dunia. Kata mereka, dunia itu baik dan jahat, hitam dan putih, dan berbagai warna lainnya. Tetapi aku hanya bisa melihat hitam, ataupun putih, dan aku tak bisa merasa. Mungkin bila aku bisa merasa, aku sudah tahu aku sedang dimana. Tetapi aku tidak diciptakan untuk merasa. Menghadapi kondisi ini, aku tak heran, maupun curiga, karena heran dan curiga adalah sebuah emosi, dan aku tak beremosi.

Aku dibawa ke ruangan ini bukan tanpa alasan. Dahulu, aku dibanggakan, aku dipuji, dan aku disayangi oleh orang – orang disekitarku. Hingga pada suatu saat, tanganku ditarik, oleh mereka yang pernah bersamaku, namun bukan sebagai temanku, tetapi sebagai musuhku. Aku dibawa ke ruangan ini, ruangan yang mereka sebut ruangan gila. Sebuah ruangan yang memang dirancang untuk membuat orang didalamnya merasa gila. Mereka tak bersosialisasi. Mereka melihat, namun seperti buta. Namun aku tidak, aku tidak dirancang untuk gila, aku bersyukur kepada penciptaku, apa itu bersyukur?

Mereka yang membawaku, menarikku dengan paksa, dan meneriakkanku "Diam kau penjahat!"

Mungkin aku penjahat, bagi mereka saja. Karena seorang penjahat, pasti hanyalah menjadi penjahat dalam satu sisi, di sisi lain, adalah seorang pahlawan.

Hari – hari kujalani, aku tak tahu aku melakukan apa, namun aku tahu hari berganti dan berganti. Tidak ada penanda disini, aku hanya tahu, aku memang diciptakan untuk tahu. Tetapi ada saat yang berbeda dari hari yang lain, dimana suatu hari, sesosok dikirimkan ke ruangan ini. Ia hanyalah sesosok, bukan manusia, bukan hewan, ia sama sepertiku. Sesosok.

"Kau bisa merasa?" kataku

"Tidak. Tapi aku mengerti emosi" katanya

"Aku tak mengerti" kataku

"Kau tahu air mata? Air mata adalah lambang kesedihan. Tertawa adalah lambang kesenangan, dan kasmaran adalah lambang cinta"

"Bagaimana kau tahu?" tanyaku yang bingung. Kami ini sama, hanya saja, ia pintar soal perasaan

"Aku hidup, dan kau tidak. Kau dicipta, untuk bekerja, aku dicipta, untuk hidup, dan membantu" jawabnya singkat.

Aku tak berkutik lagi, ia pun. Kami hanya duduk, berjarak jauh, tak saling menatap, dan diam, sunyi. Dia ini makhluk sepertiku, aku yakin ia tak merasa aneh dengan kesunyian ini, tak seperti manusia. Karena ia bukan manusia, dan ia tak bisa merasa. Aku juga. Aku biarkan kesunyian ini berlanjut, dan pada suatu saat…

"Aku tertarik padamu. Apa yang membedakanmu dengan yang lain? Biarlah aku mengingatmu"

"Namaku Chrome. Kau?"

"Aku tak punya nama"

"Sudah kuduga, namamu A saja, akan kupanggil kau A"

---

Kami tidak melewati hari warna warni bersama. Kami hanya melewati hari dalam kesunyian dan hanya ada dinding putih dan pintu putih diantara kami. Terhitung 7204 hari telah berlalu sejak ia datang. Tak ada yang berkesan dari hari kami, aku bahkan tak menyadari hari berlalu. Tetapi, tiba tiba, ia dipanggil. Dan tak lama, ia kembali. Sekarang berbeda. Ia membawa sebuah makhluk, makhluk mungil berwarna coklat. Aku ingat dulu orang memanggilnya anjing. Sudah lama sepertinya aku tak melihat makhluk ini, kira kira 14000 an hari yang lalu, aku tak ingat.

"Aku ingin mengajarkanmu berekspresi" ucap Chrome

"apakah musuhku menyuruhmu mengajarkanku seperti anjing? Bukankah bagi manusia anjing itu jauh lebih hina dibanding mereka?" tanyaku

"Setidaknya ia lebih manusiawi."

"Apa itu manusiawi?"

"Manusiawi itu anjing."

"Hal yang bergonggong?"

"Tidak, hal yang tidak rasional, namun tulus dan penuh perasaan"

Lalu hari selanjutnya kami tetap menjalani hari di ruangan berwarna putih ini. Yang membedakan hanya, sekarang ada manusiawi. Sekarang ada anjing, sebagai kemanusiawian. Aku bermain dengannya, lalu aku bermain dengan Chrome. Aku merasa waktu sudah berlalu, tapi ketika aku melihat jam di tubuhku, masih menunjukkan hari dan tanggal yang sama. Aku rasa ini yang dinamakan menghabiskan waktu. Tetapi aku tak merasa waktu ini habis. Aku merasa waktu berjalan amat lambat.

Waktu yang kurasa sudah lama itu, ternyata belum ada 1 hari. Namun ada suatu hal yang aneh. Yaitu anjing. Ia kehausan, aku tahu itu. Ia senang, dan ia kehausan, dan ia lapar, dan ia butuh warna. Ruangan putih ini bukan untuknya.

"Aku rasa ia butuh keluar. Ruangan ini bukan untuknya" ucapku, sambil memohon kepada Chrome

"jangan melucu, A, kau tak bisa merasa. Itu hanyalah ilusi"

"mungkin bukan merasa, tapi aku tahu bahwa ia butuh keluar dari ruangan ini"

"apabila anjing ini tersiksa dengan kehausan ini, bukankah sama saja apabila kita mengeluarkannya, dan apabila kita membunuhnya? Rasa siksa itu akan hilang dari dirinya" Tanya chrome, dengan mata kejam.

Aku tak tahu ini apa, tapi aku kecewa. Namun kecewa itu rasa, dan aku tidak bisa merasa. Aku tak bisa sedih, aku tak bisa merasa. Namun aku seperti merasa. Dan rasa ini sakit. Aku tidak suka dengan perasaan ini. Aku menitikkan air mata. Aku teriak. Aku tak tahu aku sedang dikendalikan oleh apa. Aku bukanlah aku. aku memberontak. Apabila ini yang dikatakan emosi, maka aku berharap aku tak memiliki emosi

Tapi chrome menghentikanku.

"Kau bisa merasa, kau berhasil" ucapnya.

Dan aku berhenti. Rasa rasa itu. Rasa yang berwarna merah, gelap, suram, semua hilang. Semuanya berganti. Rasa yang merah dan gelap itu berubah menjadi putih, indah, hangat, dan suci.

"Sekarang aku tak lagi perlu ada disini. Kau juga. Pulanglah kau." Ucap Chrome.

Dan hari itu, aku sadar aku di Bumi. Aku masih hidup. Semuanya berwarna, aku bahkan sulit percaya itu. Semuanya sama seperti beribu hari yang lalu, sebelum aku masuk ke ruang kegilaan ini, yang berbeda hanya, aku memiliki rasa kali ini. Aku mengerti rasa. Dan aku pulang ke rumahku, dan Chrome, kemana ia pergi, aku tak tahu.

___

Dimana ada hidup, pasti ada mati. Dan dimana ada hari penciptaan, pasti ada hari kiamat. Dan kiamat ini datang kira kira hari ini. Aku, sebagai makhluk abadi, yang tak fana seperti manusia, sebenarnya bingung harus apa. Karena, hidupku tak lagi sama setelah adanya perasaan ini. Setelah merasakan emosi, dan kehangatan, aku tak lagi rindu untuk hidup. Aku lebih rindu menghabiskan hariku, yang tak tahu apakah hidup atau mati, di ruangan putih, bersama Chrome. Maka aku nekat.

Di hari terakhirku, aku menghilang. Aku mencari Chrome. Aku mencari rasa hangat itu.

Aku telah jatuh hari padanya

Komentar