Kakek Tua Yang Malang (Pilar Madani L.S - XI.IBB)

" Si Kakek Tua Yang Malang"

            Di pagi hari yang gelap gulita, ada seorang Kakek Tua yang sedang bersiap-siap untuk bekerja sebagai seorang Penjahit Keliling didesa-Nya. Kakek tua tersebut bernama Kakek Suparmin, yang berusia kurang lebih 78 tahun. Dia hidup bersama anak dan para cucu – cucuNya. Setelah meninggalnya sang istri ia bekerja sebagai seorang penjahit keliling disekitar desa dekat dengan rumahNya. Anak – anaknya selalu berkata "pak, tolong sudahilah pekerjaan bapak ini sebagai seorang penjahit keliling. Saya selalu membantu bapak apa yang bapak mau". Hanya itulah yang selalu terucap dari bibir sang anak yang sangat sayang terhadap orang tuanya. Lalu pertanyaan itu, dijawablah oleh sang bapak. Dan bapaknya berkata "sudah, bapak ini kan sudah tua, tidak apa – apalah nak. Bapak hanya ingin mencari suatu kegiatan yang dapat menyenangkan hati bapak saja ko".  Sang kakek tua pun hanya bisa tersenyum kepada anak – anaknya. Karena inilah sudah kewajiban bapak. Dan hanyalah sepeda tua inilah yang selalu mengiringi setiap langkah bapak. Dengan menggunakan sepeda tua tersebutlah sang kakek tetap semangat dalam melaksanakan perkerjaanya sebagai penjahit keliling. Dia hidup dirumah yang sangat sederhana, bagi ia tempatnya adalah segalanya bagi dirinya. Walaupun rumah tersebut sudah sedikit rusak si kakek pun tetap bersyukur dengan apa yang telah tuhan berikan kepadanya. Yang ingin kakek Suparmin satu, hanya bila hujan, ia tak kehujanan hanya itulah yang Kakek Suparmin inginkan. Setiap pagi yang ia jalani itu untuk menyambung hidupnya di lain hari. Langkah demi langkah yang ia tempuh oleh kakek Suparmin adalah suatu senyuman yang berharga bagi dirinya.
*      *     *
            Pada suatu jalan yang ia tempuh, langkah demi langkah itulah yang di lakukan oleh kakek tua Suparmin tersebut setiap hari untuk menjalani hidupnya dengan menggunakan sepeda tua yang ia miliki, walaupun sudah tua kakek suparmin tetap menggunakan sepeda tersebut untuk menjadikannya hidupnya bergantung pada sepeda tua tersebut. Walaupun sang anak selalu memberikan nasihat kepada bapaknya yang mereka cintai. Namun, sang kakek tetap melaksanakan perkerjaan tersebut sebagai seorang penjahit keliling. Goesan demi goesan adalah suatu jalan yang selalu ia tempuh untuk menjalani hidupnya, lalu tak lama kemudian sang kakek Suparmin telah memasuki persimpangan jalan. Kemudian, ia bertemu dengan masyarakat sekitar yang katanya ingin menjahit pakaiannya yang sudah rusak kepada kakek Suparmin. Tak lama kemudian kakek Suparmin telah selesai dengan pekerjaannya tersebut sebagai seorang penjahit keliling didesanya. Hari demi hari yang ia lakukan untuk menjalani hidupnya, adalah sebuah semangat yang ia raih untuk kehidupannya.
*      *     *
            Hari terus berjalan, bulan terus berganti. Setiap hari kakek suparmin selalu singgah di sepeda tuannya tersebut. Terkadang sepeda tua tersebut mengalami kerusakan yang sangat dalam bagi dirinya. Namun walaupun telah rusak, sang kakek Suparmin pun tetap memperbaikinya seorang diri. Karena itu sepedanya adalah warisan yang sangat berarti bagi dirinya dan hidupnya yang saat ini ia jalani. Dia selalu mendengar pertanyaan – pertanyaan yang anak – anaknya lontarkan terhadap bapaknya, namun sang bapak tetap tak mau akan pertanyaan tersebut. Dia hanya ingin mempunyai kegiatan – kegiatan yang bergerak dalam hidupnya, ia tak mau berdiam diri dirumahnya tersebut walaupun sudah tua. Ia tak memikirkan umurnya yang sudah tua tersebut, hanyalah jawaban yang selalu didengar oleh si anak "bapak itu hanya mau ada suatu kegiatan yang dapat menggerakkan tubuh bapak saja ko nak". Si anak dengan pasrah dan ikhlas mendengar perkataan dan jawaban yang diberikan oleh bapaknya terhadapnya. Si anak pun berkata "baiklah kalau ini yang bapak mau". Senyuman dan harapan si anaklah yang dapat membuat sang bapaknya selalu bersemangat akan hidupnya. 
*      *     *
                Keesokan harinya, sang kakek tua tersebut sudah bangun dan langsung bersiap – siap lalu bergegas di setiap harinya, yang selalu ia lewati di setiap harinya. Dengan Tak memikirkan umurnya tetapi ia selalu semangat. Lalu ia mengeluarkan sepedanya dari dalam rumahnya, walaupun pagi masih terlihat sedikit gelap. Kemudian, ia tak menyantap sarapan pagi sebagai mana orang lain selalu menyantap sarapan di pagi hari. Do'a dan harapan saja yang ia punya disetiap langkah-langkah sang bapak pada disetiap hariNya.
*      *     *
            Goesan dan goesan yang dapat ia tempuh. Hanya jalananlah yang menjadi saksi di kehidupannya, demi sebuah senyuman diwajahnya. Terkadang, masih ada orang lain yang baik terhadap sang kakek yaitu seperti membagi makanannya terhadap dirinya. Syukur Alhamdulillah itulah yang selalu ada di dalam hatinya kakek Suparmin. Iya pun selalu menggoes sepeda tuanya itu hingga dapat pelanggan yang ingin menjahit kepadanya, tak lama kemudian sang kakek tua Suparmin di panggil oleh masyarakat setempat yang ingin menjahit pakaiannya kepada dirinya. Sesudah selesainya dengan pekerjaanya sang kakek selalu menerima uang lebih dari masyarakat setempat, mereka berkata didalam dirinya "kasihan si kakek tua yang malang, seharusnya kakek Suparmin dirumah sebagaimana kakek – kakek pada umumnya yang menghabiskan sisa-sisa umurnya dirumah bersama keluarganya". Sang kakek berlanjut menggoes lagi sepeda tua kesanyangannya itu untuk mencari pelanggan – pelanggan yang ingin menjahit kepadanya.
*      *     *
            Kakek Suparmin pun telah memasuki perdesaan yang bernamakan Desa Sukoharjo. Hanya belokan dan belokan yang selalu ia telusuri di setiap harinya, hanya untuk mendapatkan pakaian yang ia harus benahi. Tidak lama kemudian, ia mendapatkan pelangggan yaitu seorang ibu-ibu yang berpakaian tidak senonoh. Dia ingin memperbaiki pakaiannya yang telah rusak kepada kakek Suparmin, dengan suara yang tidak layak di dengarkan oleh sang kakek. Lalu tidak lama kemudian, datanglah ibu-ibu dari Desa Sukoharjo yang ingin juga memperbaiki pakaian-pakaian keluarganya yang telah rusak. Lalu, sang kakek telah menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Mereka pun yang telah menjahit di kakek Suparmin telah berdatangan, di karenakan mereka ingin membayar hasil jahitanya kakek Suparmin, mereka berkata "pak, ini kan sudah jadi dan semua pakaian saya berapa pak?" kakek Suparmin menjawab "seikhlasnya ibu saja mau membayar hasil jahitanya saya" itulah senyuman yang kakek kasih terhadap orang-orang yang telah menjahit kepadanya. Dan ada lagi yang datang ingin mengambil bajunya yang telah di jahit oleh kakek Suparmin, dan ibu itu yang tadi berkata agak sedikit agak kasar terhadap kakek Suparmin tadi. Ibu tersebut berkata "Berapa ini semuannya!" itulah perkataan dan omongan yang tak pantas didengarkan oleh sang Kakek Tua Tersebut. Kakek Suparmin menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepada dirinya, kakek Suparmin berkata "seikhlasnya ibu mau bayar hasil jahitannya saya berapa saja". Itulah jawaban yang selalu kakek Suparmin lontarkan kepada orang – orang yang menjahit kepadanya sebelumnya. Ibu tersebut mengasih uang dan bergegas mengasih uangnya ke kakek suparmin tanpa ada sepatah kata ucapan untuk Kakek Suparmin. Kemudian tak lama ibu yang tadi itu datang lagi dan ibu itu berkata "eh, ini kenapa pakaian saya makin kesini semakin rusak!!" kakek suparmin pun mendengar dengan terkejut " Astagfirullah kenapa bisa jadi seperti ini, perasaan saya tadi menjahitnya dengan benar" itulah kata kakek Suparmin. Ibu itu langsung memarah-marahi sang kakek tua tersebut habis-habisan, dan ia berkata ingin meminta kembali uang yang tadi ibu tersebut berikan kepada sang kakek. Tanpa disadari sang Kakek Suparmin tadi ibu tersebut pulang dan merusak-rusak pakainnya sendiri di tengah jalan tadi, kata pemuda yang datang terhadapnya sekarang. Kata pemuda tersebut berkata "kek, kakek tidak apa – apakan? Tidak udah masukkin kedalam hati yang yadi ibu itu berikan ke kakek ya? Masih ada aja orang-orang seperti itu yang ingin jail terhadap kakek". Kakek Suparmin pun berkata "Masyaallah.. begitu ceritanya nak? Terima kasih ya sudah memberitahukan kakek, perasaan tadi kakek mengerjakan jahitnya sudah benar dan rapih". Pemuda itu pun berkata lagi "Iya kek sama – sama, sudah ya saya mau pulang dulu Assalamu'alaikum kek" Waalaikum'salam nak. Kakek Suparmin pun pulang kerumahnya dengan raut wajah yang sedih.
*      *     *
Detik demi detik, hari demi hari, bahkan tahun demi tahun. Baru waktu itu saya menerima ujaran yang sedih dan perih terhadap pelanggan jahit saya yang pada waktu itu, kata Kakek Suparmin  didalam dirinya. Dan ia selalu merasa sedih tentang apa yang orang lain telah berikan kepadaNya. 

Komentar